NASIONALISME UNTUK NEGERI RAKSASA YANG TERTIDUR TERPASUNG RIMBUN KEKAYAAN TERTIKAM ULAH PENGUASA DAN KONGLOMERAT TERGADAI RASA MALU (SIRI’) DI PANGGUNG “ATAS NAMA” INDONESIA!
Oleh: Sultan Sulaiman*
Melihat etalase zambrud khatulistiwa, terbentang dari Sabang sampai Merauke. Pulau berjajar memendam kemilau permata potensial masa depan. Negeri dengan keanekaragaman, berbaur dengan motif-motif sumberdaya alam luar biasa. Geografisnya terlalu elok, tak dapat digambarkan kata-kata. Negeri raksasa tempat negara-negara adidaya mencari makan. Mengumpulkan setiap depa kekayaan potensial untuk menghidupi negaranya. Malang! Empunya justru ditikam melarat membuat gurat lehernya hampir putus. Tulang terbungkus kulit kering lantaran sehari-hari menikmati aking. Terlalu pahit menyorot negeri dengan jutaan panorama eloknya.
Membuka lembaran buku-buku yang kerap bercerita tentang Indonesia. Mata dibuat rabun. Gajah depan mata tidak terlihat. Padahal fakta geografis tak bisa dipungkiri. Indonesia negara terluas nomor 15 di dunia, berpenduduk terbanyak keempat, penghasil biji-bijian enam terbanyak, penghasil kopi keempat, kualitas coklat nomor tiga, penghasil minyak sawit nomor dua, penghasil lada putih nomor satu, penghasil lada hitam nomor dua, penghasil karet alam nomor dua, penghasil sintetik nomor empat, penghasil kayu lapis nomor satu, penghasil ikan nomor enam, penghasil timah nomor dua, penghasil batubara nomor enam, penghasil tembaga nomor tiga, penghasil minyak bumi nomor sepuluh.
Ada lagi! Penghasil natural gas nomor enam, penghasil LNG nomor satu, penghasil emas, penghasil aspal, penghasil bauxite, penghasil nikel, penghasil granit, penghasil perak, dan banyak lagi sumber potensial yang membuat negeri ini luar biasa dalam kasat mata.
Lalu apa yang kurang dengan keragaman harta potensial itu? Banyak bangsa dan negara yang tak sekaya Indonesia. Namun mampu mengobarkan taring kehormatannya dalam kancah pertarungan dunia. Tapi semuanya seolah suram ketika membaca data lain yang berkenaan dengan negeri ini.
Negara ini, negara penghutang nomor enam di dunia dengan total utang 1.585 triliun (data dept. Keuangan Juli 2009). Utang sebanyak itu membebankan angka di atas enam juta setiap warganya, setiap bayi yang baru lahir harus turut serta menanggung utang bejibun. Negara terkorup nomor tiga di dunia. Rangking SDM nomor 112 dari 127 negara. Jumlah penduduk hidup di bawah garis kemiskinan 26% dengan penganggur terbuka dalam kisaran angka 36 juta-an.
Menyorot sisi lain bangsa ini juga menyodorkan data yang membuat miris. Generasi muda dominan larut dalam arus konsumeris hedonis, apatis dan telah kehilangan rasa malu. Menginjak-injak kehormatan leluhur tanpa kendali mengadopsi laku westernisasi. Merobek-robek nilai-nilai kearifan dalam frame permisifisme. Tanpa filter. Tak sedikit yang terjerat candu dalam aroma sabu, mariyuana, dan produk-produk barang haram narkotika dan obat-obat terlarang yang dilegitimasi dan dipasok diam-diam oleh politisi atau konglomerat gelap.
Yang lain! Anak gadis di negeri ini terlalu gemar memajang selaput dara dan para pemudanya tak canggung merobeknya. Ditemukan 2,3 juta kasus aborsi dan 30% pelakunya adalah remaja. Angkanya menunjukan peningkatan antara 150.000-200.000 kasus pertahun. Menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat aborsi ketiga terbesar di ASEAN.
Kecemasan ini mungkin mirip dengan yang dirasakan J.F. Kennedy. Kekhawatiran masa depan Amerika terlihat dari wajah generasi muda. Generasi muda yang tumbuh dengan karakter yang labil. Minim prinsip dan cenderung pengecut. Kennedy mengatakan, jika sepuluh pemuda Amerika diminta berperang, maka hanya tiga orang yang bisa melakukannya. Kondisi Indonesia tak jauh beda. Akhirnya sepuluh pemuda yang diharapkan Soekarno untuk mengubah dunia tak akan pernah ada.
Problem ini tidak terjadi sendirinya. Generasi muda bukan tertuduh yang dikambinghitamkan. Akarnya tentu, dari munculnya fenomena gegar terhadap hal-hal baru yang dengan mudah menjangkiti siapa saja. Paling layak mengoreksi salah satu pilar demokrasi yang saat ini berteduh di bawah payung kemerdekaannya. Revolusi informasi telah menempatkan media sebagai satu-satunya corong yang memiliki peran besar terhadap perubahan tingkah laku generasi. Ini disokong oleh tidak beresnya regulasi yang dilatarbelakangi oleh kemandegan kultur sistem birokrat.
Seharusnya! Segala sesuatu terkontrol agar bisa terkendali. Yang terjadi? Justru para pemegang kendali yang harusnya mengontrol malah mabok memenuhi hajat perutnya. Produk hukum yang ditelorkan legislatif kemudian dipatenkan eksekutif sekadar panorama yang setelah ditetapkan ia jadi pajangan dan tak pernah lagi disebut “namanya”. Maka media seenak perut ngebor mengobral fantasi-fantasi sarat aroma selangkangan.
Para pelaku aborsi itu (30% yang telah disebutkan) mendapat terpaan tak kenal ampun dari kebejatan revolusi informasi tanpa filterisasi. Tayangan televisi penuh mesum, kemudahan mendapati DVD porno, majalah porno, komik, merambah pada kemudahan akses situs-situs syahwat yang tak pernah benar-benar mendapat cekal oleh taring undang-undang pornografi dan undang-undang informasi. Seperti gajah pincang tak bertaring. Wacananya saja besar namun realisasi nol.
Polemik ini imbas dari ketidakbecusan, semacam laku tidak profesional, atau bentuk indikasi lemahnya karakter institusional. Karakter institusional tentu dibangun dari sub-sub institusi yang di dalamnya diduduki orang-orang dengan peran-perannya masing-masing. Kesalahan bukan pada peran, tetapi ketidakmampuan person dalam menjalankan lokomotif peran-peran itu. Ini dapat dilihat dari hadirnya lembaga pembuat undang-undang (DPR) yang tidak pernah maksimal melaksanakan kinerja. Masih ada ratusan draft undang-undang yang belum rampung. Celakanya. Undang-undang yang telah ditelorkan juga tak bernilai apa-apa lantaran tidak dijalankan sebagaimana tujuannya.
Lalu ada lagi lakon mengelitik yang diparadekan para pemegang kuasa negeri ini. Menyodorkan mimpi-mimpi sophistic dalam bualan politik. Saling cerca kala badan memunggungi namun jika bertatap, muka manis ditebar seolah tak ada apa-apa. Mental penjilat teramat kental disaksikan. Yang lain? Penguasa, mungkin juga menjangkiti mereka yang sok punya kuasa merasa paling berjasa dan layak mendapatkan cendrmata atas jasa yang diklaim telah dilakukan, tapi tersirat (dibilang tersirat karena sebenarnya banyak yang tidak berbuat apa-apa. Hanya tidur dalam sidang-sidang paripurna. Untung kalau tidur yang tidak hadir jauh lebih banyak).
Bisa dilihat dari usulan pembelian cincin sebagai tanda mata terakhir mereka yang hampir hengkang dari kursi legislatif. Tak punya malu mempertontonkan mental rendahan. Suka menengadah makan dari rampasan harta rakyat yang sekarat. Sebuah parade menjijikkan yang dimainkan oleh kaum yang dinamakan elite yang “katanya” berjuang “atas nama” rakyat Indonesia.
Sebab kemajuan bangsa tidak ditentukan oleh lama usianya. Mesir telah ribuan tahun berdiri sebagai sebuah bangsa dan negara berdaulat. Tapi tak begitu sukses menghapus angka kemiskinan yang menggerogotinya. Adalah Jepang yang luluhlantak ketika negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya. Setelah kisaran enam puluhan tahun berlalu, antara Indonesia dan Jepang bisa dilihat berapa skala perbedaan kemajuannya.
Apa yang membedakan? Jika merujuk pada teori budaya, maka kemajuan itu ditentukan oleh intensitas budaya suatu bangsa. Ketinggian nilai budaya menuntun sebuah bangsa dan negara menuju gerbang kegemilangannya. Bangsa besar adalah bangsa yang berbudaya. Bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang memiliki multi-kapasitas karakter dalam ragam dimensi kehidupan.
Perbedaannya ada pada personal yang menjadi sub dari sebuah institusi bernama negara. Manusia-manusia yang hidup di negara maju mayoritas hadir sebagai personal yang semestinya. Personal yang memiliki keluhuran karakter sebagai sosok-sosok berbudaya. Paham hak dan kewajiban, dan pantang menghindari sanksi jika terbukti melakukan pelanggaran. Tidak ada pos-pos toleransi yang sengaja dibuat untuk melemahkan sebuah regulasi. Ini disokong oleh pemerintahan kokoh yang jauh dari budaya suap yang marak diistilahkan korupsi, kolusi, dan nepotisme. Personal yang tanpa pamrih mempersembahkan karya terbaiknya untuk kemajuan bangsa dan negaranya.
Jika presiden Cina berani menembak mati pelaku korupsi di tempat umum beserta seluruh keluarganya untuk mengajari jutaan warganya, lalu apa yang dilakukan Indonesia? Para penjahat kelas kakap di negeri ini justru ditempatkan di panggung-panggung terhormat. Jika dijerat hukuman, waktunya tidak lama dan selalu dibuat seringan mungkin. Implikasi terlihat dari hadirnya budaya korupsi sistemik di seluruh lini kehidupan. Menjadikan korupsi sebagai momok yang seolah-olah tidak bisa dihilangkan.
Polemik ini terlanjur menjadi penyakit di negeri demikian raksasa bernama Indonesia. Rasanya mencari obat penawar terbilang susah namun bukan berarti harapan kebangkitan telah mati. Jika berkaca pada risalah nasionalisme yang kerap didengungkan kala negara lain tiba-tiba mengklaim produk budaya kita, maka nasionalisme sejatinya adalah upaya supermaksimal untuk memberikan kontribusi terbaik setiap diri sebagai bagian dari sebuah bangunan bernama negara.
Nasionalisme dimaksud bukan pada besar kecilnya peran personal yang dimainkan, tetapi bagaimana melakukan optimalisasi maksimal terhadap peran-peran yang ada. Sehingga perubahan untuk Indonesia lebih baik dan lebih maju bisa diwujudkan.
Saya menawarkan lima (5) “mutiara kebangkitan” dari ragam rumusan masalah yang telah dipaparkan. Lima “mutiara kebangkitan” ini menurut hemat saya menjadi poin esensial yang harusnya direformasi sebelum gelombang aksi penumbangan rezim terjadi. Bahkan sebelum negeri ini berdiri sebagai bangsa yang memiliki legitimasi.
Pertama, Kebangkitan Kapasitas Personal. Ditandai dengan menumbuhkan karakter-karakter manusia Indonesia yang berbudaya, yang memiliki ketinggian rasa malu, harkat-martabat yang benar-benar elitis, punya semangat pantang menyerah, kokoh, mandiri dengan kekhawatiran menerima pemberian apalagi berutang, dinamis yang berpadu dengan kreativitas memadai, spesialis dan memiliki wawasan global, serta teguh memegang keluhuran nilai-nilai budayanya.
Produknya adalah manusia multi-ruang yang memiliki kematangan identitas sebagai orang Indonesia. Manusia yang tidak mudah gagap oleh bauran budaya lantaran dijangkiti inferioritas. Manusia yang tumbuh dengan rasa cinta yang besar terhadap tanah air dan tumpah darahnya. Manusia yang punya orientasi perubahan masa depan yang gemilang dan terukur. Manusia yang tak mudah terbakar dan berbuat onar lantaran perbedaan atau fanatisme sempit. Model manusia ini yang akan diproyeksikan dalam pos-pos strategis pemerintahan. Sehingga kontribusi yang dimainkan bisa diprediksi dengan barometer kualifikasi yang dimiliki.
Kedua, Kapasitas Interpersonal. Manusia multi ruang diharapkan hadir sebagai obor yang bisa membagi benderangnya. Kapasitas personal yang dimilikinya harus diwariskan kepada yang lain sehingga dia hidup bukan untuk dirinya sendiri tapi juga untuk orang lain. Kapasitas interpersonal merujuk pada kecerdasan berbagi dan membangun hubungan empatik yang menghargai, saling memahami, dan saling mengisi untuk merealisasikan visi-misi perbaikan.
Ketiga, Kapasitas Sosial. Mutiara kebangkitan ini menawarkan satu bentuk idealisasi gerakan perubahan yang tidak didasarkan oleh ikatan fanatisme sempit dalam lingkup primordial. Namun jauh dari itu, menginginkan manusia multi-ruang berkolaborasi dengan ragam entitas sosial yang ditemuinya. Mengusung pilar kepedulian atas nama memanusiakan manusia. Di sini kapasitas personal diuji dengan bentuk komunikasi interpersonal yang juga mensyaratkan terseleksinya kemampuan berbagi antar manusia. Hingga lahir formula relasi gerakan kebangkitan yang mengedepankan kesamaan ide dan cita-cita sebelum menyentuh aspek perbedaannya.
Lalu kapasitas sosial diinternalisasi secara utuh dan menyeluruh dengan penetapan satu fokus cita-cita tentang ke arah mana Indonesia akan dibawa. Kemudian ditarik rangkaian tools dalam menyokong pencapaian fokus cita-cita tersebut. Misalnya, jika kita sepakat untuk menjadikan negeri ini sebagai negara sentrum agraria dunia, maka tools pendukung yang dibangun hendaknya merujuk pada pencapaian tersebut. Jadi ada icon dominan yang ditonjolkan yang memayungi ragam dimensi potensial lain (misalnya sumber daya energi). Dengan demikian, pergeseran kebangkitan bisa diteliti secara rinci lalu dievaluasi dalam rangka perbaikan lebih lanjut.
Dalam hal ini, mutiara kebangkitan keempat berupa bangunan kapasitas managerial hadir dengan label manusia yang terarah, terbagi peran-peran dan fungsi dengan kejelasan kinerja, memiliki tingkat disiplin yang tinggi, menghargai waktu, kemampuan leadership yang mengakar (komunikasi empatik persuasif) dengan pola managemen berbasis spesialisasi. Melahirkan kerja-kerja spesifik yang bisa ditakar dan terukur tingkat keberhasilannya.
Kapasitas managerial ini berimplikasi terhadap kematangan dalam menjalankan mekanisme sistemik dalam tatanan sosial pemerintahan. Dengan tercapainya tiga mutiara kebangkitan sebelumnya (kapasitas personal, kapasitas interpersonal, dan kapasitas sosial), akan melahirkan harmonisasi yang baik antar simpul-simpul sosial pemerintahan yang ada. Hingga tak ada lagi keluhan atau serapah atas sistem yang dimainkan, karena para pemain sistem (manusia multi-ruang) yang punya kendali paling urgen terhadap maksimalisasi keluaran yang dihasilkan. (Contoh kecil bisa diterapkan di lembaga legislatif dengan melakukan pembagian secara konsisten terhadap kubu koalisi, oposisi, dan independen. Hal ini akan memengaruhi efektivitas dan efisiensi lahirnya undang-undang).
Akhirnya mutiara kebangkitan ditutup dengan lahirnya kapasitas kolektivitas. Orientasinya adalah terbentuknya satu tatanan masyarakat yang tercerahkan dan terpenuhi hak-haknya. Terbentuknya kultur manusia-manusia peradaban yang memiliki ketinggian budaya. Yang bergerak dengan relasi dinamis dengan kemampuan mengkonsolidasikan konflik. Manusia-manusia yang memiliki kematangan personal, memiliki sikap, indentitas, dan pandangan hidup yang selektif sekaligus progresif terhadap perubahan dan perbaikan.
Peradaban dunia telah bergerak dari daratan Persia menuju Romawi. Masuk ke wilayah gersang Timur Tengah lalu ke Eropa, dan tidak mustahil tonggak peradaban dunia akan bertandang di Indonesia dalam kisaran beberapa masa. Tak ada yang tak mungkin. Setiap bangsa dan negara memiliki takdirnya. Bangsa besar adalah bangsa yang mampu merekayasa takdir gemilangnya.
Lima “mutiara kebangkitan” ini menjadikan personal sebagai kata kunci utama kebangkitan. Cita-cita besar selalu diusung oleh manusia-manusia yang memiliki kapasitas internal yang mumpuni. Manusia-manusia yang telah diceritakan secara sebagai maestro perubahan.
Secara sederhana nasionalisme itu memaksa setiap diri merasa menjadi raksasa yang tidak tertidur, yang tidak tepasung rimbun kekayaan sumberdaya alam, tidak tertikam ulah penguasa dan konglomerat. Nasionalisme itu tidak menggadaikan rasa malu di panggung “atas nama” Indonesia! Nasionalisme itu berfikir positif bahwa Indonesia bisa apa saja. Tapi serba bisa tak membuat kehilangan kendali hingga yang sekali merdeka menjadi merdeka sekali. Nasionalisme itu…?
***
*Mahasiswa Komunikasi Universitas Hasanuddin
Read More......